JAKARTA – Lanskap publikasi ilmiah global pada tahun 2026 sedang mengalami pergeseran radikal menuju model Akses Terbuka atau Open Access (OA) secara penuh. Data dari OpenAlex menunjukkan bahwa tren ini terus meningkat tajam; sebagai perbandingan, pada tahun 2024 saja, 61 persen dari 10,6 juta karya ilmiah yang terindeks sudah berstatus open access, melonjak jauh dibandingkan tahun 2000 yang hanya berada di angka 17 persen.
Lonjakan ini sangat dipengaruhi oleh kebijakan ketat dari berbagai lembaga pendana riset (funder) dan pemerintah. Salah satu tonggak utama di tahun ini adalah implementasi penuh dari memo Office of Science and Technology Policy (OSTP) Amerika Serikat. Kebijakan yang mulai berlaku efektif secara luas pada 31 Desember 2025 dan awal 2026 ini secara resmi menghapus masa tunggu (embargo) 12 bulan. Artinya, publikasi dan data penelitian yang didanai oleh pemerintah federal AS wajib langsung tersedia agar dapat diakses secara gratis oleh publik.
Tantangan Baru: Meroketnya Biaya APC
Meskipun Open Access membawa dampak positif bagi kemudahan pencarian literatur, pergeseran ini memunculkan tantangan baru yang membebani peneliti, yakni Article Processing Charges (APC) atau biaya pemrosesan artikel. Di tahun 2026, biaya publikasi tidak lagi sekadar rincian teknis, melainkan faktor utama yang menentukan di mana sebuah laboratorium mampu mempublikasikan karyanya setelah riset selesai.
Pasar APC di tahun 2026 menunjukkan polarisasi yang tajam. Jurnal-jurnal flagship bergengsi dengan nilai simbolis yang kuat kini mematok biaya APC di atas $10.000 (sekitar Rp 150 juta) per artikel. Di sisi lain, jurnal-jurnal terindeks OA yang berfokus pada volume produksi dan aksesibilitas umumnya mematok biaya di kisaran $2.000 hingga $3.000.
Tingginya biaya ini menegaskan bahwa penerbit jurnal global menetapkan harga berdasarkan posisi merek dan gengsi (prestige) di pasar. Hal ini tentu menimbulkan kekhawatiran bagi para peneliti yang tidak memiliki dukungan dana dari institusinya.
Solusi dan Kesepakatan Institusional
Merespons tekanan biaya tersebut, ekosistem akademik global mulai mencari jalan keluar. Salah satu tren yang mendapatkan traksi adalah Diamond Open Access, yakni model jurnal berkelanjutan yang sama sekali tidak membebankan biaya publikasi kepada penulis maupun pembaca.
Selain itu, skema pembayaran jurnal kini banyak bergantung pada perjanjian transformatif (transformative agreements). Perjanjian antara universitas atau di tingkat nasional dengan pihak penerbit ini memungkinkan porsi artikel yang besar untuk diterbitkan secara open access di jurnal hybrid.
Dengan regulasi yang menuntut keterbukaan penuh dan model pembiayaan yang terus bergejolak, para akademisi dituntut untuk lebih cermat. Menentukan jurnal tujuan tidak bisa lagi dilakukan di akhir fase riset, melainkan harus direncanakan sejak awal agar tidak terkendala masalah pendanaan publikasi.

